Di salah satu kota yang dinginnya memeluk, berdiri tegak sebuah sekolah, saksi bisu bagi cerita yang baru saja bermula di hati ini. Kita, dua pasang mata di sekolah, menatap cakrawala yang sama, namun dengan buku-buku di pangkuan.
Pagi-pagi buta, ketika embun masih setia menempel di jendela, langkahku sudah terayun menuju gerbang. Bukan hanya demi absen tercepat, namun demi satu atau dua menit waktu yang ku curi, untuk sekadar melihat senyummu atau mendengarkan candaan ringanmu.
Ada bisikan yang hadir selembut angin subuh, menenangkan namun tak terduga. Usia kita masih belia, terlalu dini untuk menamai ini dengan kata-kata besar. Sadar betul, bahwa seragam putih abu-abu ini adalah jubah kesatria untuk medan juang yang lebih penting.
Antara tumpukan buku Sejarah dan rumus Matematika yang menantang, kami habiskan hari-hari. Kisah ini bukanlah tentang janji-janji manis, melainkan tentang janji pada diri sendiri.
“Setiap lembar yang kita baca, setiap diskusi yang kita pecahkan, adalah bata pertama yang membangun masa depan yang indah. Inilah kisah cinta sesungguhnya: cinta pada ilmu”.
Kami saling menyemangati, bukan dengan rayuan, melainkan dengan pertanyaan, “Sudah sejauh mana persiapan untuk ujian ini?” atau “Mari kita bahas materi ini bersama.” Di mata kami, prestasi adalah manifestasi perhatian yang paling tulus.
Guru adalah pelita dan penjaga hati kami, yang tak hanya mengajar aksara dan angka, tetapi juga tentang adab dan akhlak. Pelita yang menerangi lorong masa muda, memastikan api semangat belajar kami tetap menyala, dan menjaga hati-hati kami agar terjaga.
Mimpi, doa, dan takdir biarlah menjadi rahasia yang tersimpan rapi di laci hati, terkunci rapat bersama janji untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Kami percaya, jika Tuhan memang berkehendak, kelak setelah cita-cita tergenggam, setelah kami menjadi pribadi yang pantas, maka kisah ini akan menemukan muara yang terindah. Sekarang adalah waktunya berjuang. Sampai saat itu tiba, biarlah kami terus duduk di bangku sekolah ini.
By, Rafik Asril, M.Pd (Pembina KTR MAN 2 Manggarai)





3 Responses
Sangat menggugah hati dan indah kata kata yang terangkai menjadi kalimat
MasyaAllah… Siap tunaikan janji untuk diri sendiri, untuk anak didik dan untuk Madrasah.
Bersama menggapai Asa….MANduma is the Best