MAN 2 Manggarai (Kemenag) — Seluruh siswa kelas XI Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Manggarai gelar karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Penguatan Pelajar Rahmatan Lil Alamin (P5PPRA) bertemakan Kearifan Lokal sebagai Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di Aula MAN 2 Manggarai, Sabtu (22/2/25). Kearifan lokal yang ditampilkan antara lain: tarian “Tiba Meka” (tarian penyambutan tamu) dan “Hambor” (perdamaian) seni mengelola konflik dalam budaya Manggarai.
Pengawas Madrasah, Syamsul, dihadapan siswa menyampaikan tentang pentingnya mengadakan P5P2RA di satuan Pendidikan sebagai kosekuensi menerapkan Kurikulum Merdeka.
“Kurikulum merdeka memberikan ruang kepada satuan Pendidikan dan siswa untuk melakukan proses pembelajaran sesuai kebutuhan lokal, nasional bahkan mungkin internasional. Antara adat istiadat dan agama sangat berhubungan, tidak bisa dipisahkan. Warisan budaya merupakan hata kekayaan yang harus diwariskan pada generasi sekarang. Semangat mengikuti gelar karya pada hari ini, ikuti dengan baik dan sungguh-sungguh,” ujar Syamsul.
Sementara dalam sambuatan kordinator P5PPRA, Mansur Amriatul mengungkapkan, “Tema Kearifan Lokal yang diangkat sebagai jawaban atas tergerusnya nilai-nilai kearifan lokal generasi saat ini untuk dilestarikan Kembali. Karena jika melihat historisnya kearifan lokal hadir di masyarakat mengandung nilai-nila, gagasan-gagasan, pandangan-pandangan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya,” ucap Mansur.
Mansur melanjutkan, “Hambor (perdamaian) sebagai seni mengelola konflik dalam budaya Manggarai adalah tema yang sangat relevan untuk diangkat dan dilestarikan kembali. Karena realitas saat ini, begitu ada masalah di masyarakat atau lingkugan pendidikan, langsung melapor ke Polisi. Kita lupa ada warisan leluhur yang sangat arif dan bijaksana dalam penyelesaian konflik ala budaya Manggarai yaitu hambor,” imbuhnya.
Hambor adalah sebuah ritus perdamaian dalam budaya Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Warisan budaya ini sangat khas dan mengandung konsep atau filosofi yang luhur dan khas resolusi konflik berbasis budaya.
Kepala MAN 2 Manggarai, Masrum Bata, mengapresiasi tim fasilitator P5PPRA dan semua siswa yan sudah melaksanakan dengan baik semua tahapan P5PPRA.
“Kita sadar bahwa siswa MAN 2 Manggarai sangat heterogen dari berbagai suku, bahasa dan daerah yang berbeda tetapi semangat untuk belajar mencintai budaya lokal Manggarai tidak perlu diragukan lagi. Salah satu buktinya hari ini semua enu-enu sangat molas dan yang nana-nana reba dengan balutan pakaian khas daerah,” ujar Masrum Bata
“Percayalah bahwa suatu saat pengetahuan tentang kearifan lokal dengan sub tema tarian Tiba Meka dan Hambor ini sangat bermanfaat, terutama ketika siswa nanti bergabung dalam masyarakat,” lanjutnya. ***
Pewarta & Foto: Mansur Amriatul
Sumber : ntt.kemenag.go.id




